Minggu, 27 Agustus 2023

Surat Cinta Tentang Vindes Sport Kelima: mempersemBAHKAN VOLI #BahkanVoli.

Tentang Vindes Sport Kelima: mempersemBAHKAN VOLI

Menonton langsung melalui Youtube, menyesal tidak bisa hadir secara langsung untuk merasakan atmosfernya.

Respect, hormat sedalam-dalamnya untuk pencetus dan penyelenggara BAHKAN VOLI.
Menyatukan dan melibatkan seluruh anggota Prediksi dan membenturkannya dengan para Aktor dalam sebuah pertandingan olahraga, VOLI, yang sedikit banyak tidak sepopuler sepak bola dan bulu tangkis: hasilnya sangat amat mempesona.

Mungkin isi tulisan ini akan jadi terlalu manis karena akan selalu ada selipan kekaguman atas berlangsungnya BAHKAN VOLI, tapi, apresiasi mendalam harus disuarakan. Sama seperti bagaimana Vindes Sport menyentuh olahraga yang seharusnya bisa menjadi perhatian seluruh pihak terkait (baca: asosiasi dan atau pemerintah) dan dinikmati berbagai lapisan masyarakat. Sama seperti bagaimana Vindes Sport menangkap dan menyuarakan pentingnya mengurus sebuah cabang olahraga melalui pertandingan yang disiapkan dengan serius.

Setelah tenis meja, bulu tangkis, serta tenis yang terdampak peminat dan pemainnya karena Vindes Sport sebelumnya, voli akhirnya mendapat kesempatan yang sama.

Sejujurnya, saya bukan penikmat voli. Pertandingan voli yang bisa ditonton hanya pertarungan antar-RT, saat momen 17 Agustus, dan dalam skala kecil. Pemahaman atas pertandingan tidak didapat semudah mengakses apa-apa saja yang sepak bola dan bulu tangkis sajikan dalam tayangan live di tingkat nasional dan internasional. 
Tapi, dari satu pertandingan BAHKAN VOLI hari ini, minat untuk menyelami voli muncul begitu saja. Mengapa posisi pemain demikian, siapa saja yang bisa jadi Ribero, pelanggaran dalam rally yang berlangsung. Hal-hal itu menjadi pertanyaan yang kemudian muncul sepanjang jalannya pertandingan.
Kredit kepada Mbak Yola yang selama pertandingan fokus membahas poin demi poin dan memberi informasi yang bisa penonton pahami. Bahkan, intermezzo "kuburan kucing" membuat voli jadi terasa begitu dekat karena penonton diajak menyelami bagaimana seorang pemain memandang sebuah pertandingan.

Mengemas sebuah olahraga dengan melibatkan tokoh yang dikenal luas publik akan memantik percakapan. BAHKAN VOLI membuktikannya dengan banyaknya cuitan di Twitter - yang sekarang berganti nama menjadi X - yang membuatnya bertengger di posisi satu trending Indonesia dengan #BahkanVoli. Bahkan, Timnas Indonesia yang sedang berlaga di Final Piala AFF U-23 masih kalah "populer" dan hanya menempati posisi dua melalui #TimnasDay saat pertandingan BAHKAN VOLI dimulai.

Jalannya pertandingan pun tidak menunjukkan "keamatiran" yang sebenarnya bisa dimaklumi. Pemain dari kedua tim benar-benar menunjukkan usaha dan perkembangan sepanjang pertandingan berlangsung. Meskipun di set pertama atau set pembuka perolehan poin masih banyak didapat dari servis eror serta posisi antar-pemain yang membuat rotasi tidak berjalan maksimal, semakin ke belakang, pertandingan berjalan intens dengan rally menarik disertai gimmick yang membuat atmosfer pertandingan berjalan sangat menyenangkan.

Apa-apa saja yang terjadi sepanjang lima set berjalan menunjukkan persiapan matang dari seluruh pemain. Kesalahan memang tetap muncul dan dilakukan, namun secara keseluruhan, menikmati permainan ini benar-benar bisa sampai ke dalam hati. Ikut teriak dan bersorak, mengeluh dan mengaduh, mengutuk dan menggerutu, hal yang benar-benar dirasakan ketika menonton pertandingan yang dijalani atlet-atlet Indonesia (sebagai informasi, saya penikmat bulu tangkis yang ekspresif ketika menyaksikan pertandingan). Situasi semakin menarik dengan adanya informasi bahwa kedua pelatih bagi kedua tim merupakan pelatih profesional yang bahkan pernah menangani Timnas - jelas menunjukkan betapa seriusnya persiapan untuk turun berlaga.

Pemilihan aktor sebagai pemain, mulai dari Baskara dan Bryan Domani, hingga Dwi Sasono dan Tanta Ginting - sedikit dari 13 total aktor yang terlibat - harus mendapat pujian sebanyak-banyaknya. "Kurasi" pemain ini menyentuh berbagai basis-fans yang bisa membuat olahraga voli semakin dipahami dan disadari untuk dinikmati.

Selain ramainya situasi di lapangan, situasi di pinggir lapangan jelas tidak kalah menarik. Keluarga para pemain hadir dan memberikan dukungan penuh. Tidak banyak disorot kamera memang, namun media sosial lain menjadi jendela untuk melihat gambaran sisi lapangan yang tidak ditampilkan.

Keramaian ini harusnya menjadi sesuatu yang wajar dalam setiap pertandingan voli (atau olahraga apapun). Apa yang ditunjukkan BAHKAN VOLI kali ini, tidak terlepas dari bagaimana pengemasan pertandingan diterapkan.
Pemain yang gigih dan tidak menyerah, gemuruh penonton yang tidak lelah dari segala arah, pergerakan kamera yang tidak hanya dari satu sisi melainkan mengcover seluruh area, perpindahan gambar kedua tim serta tampilan replay dari poin penting, komentator yang informatif dan menghibur, venue yang tertata dan rapi, penampilan hiburan di awal dan penghujung acara, improvisasi seluruh tokoh terlibat, iklan dalam durasi dan momen yang tepat. Paket lengkap, mempertimbangkan seluruh aspek agar bisa menyuguhkan sebuah acara yang memang untuk penonton - untuk kita semua. 

Sekali lagi, respect dan hormat sebanyak-banyaknya, sepenuh-penuhnya kepada pencetus dan penyelenggara, bagaimana konsep dan ide diterjemahkan ke dalam sebuah acara yang disajikan dengan utuh, siap, dan total.

Highlight dalam pertandingan, kesan yang tidak bisa langsung terlupakan:
1. Penampilan gemilang kedua tim di set ketiga dan keempat. Siapa yang menyangka akan menyaksikan momen plot twist ketika The Prediksi unggul 24-22 dan tinggal mengamankan satu poin untuk memastikan kemenangan di set keempat, tapi The Actors justru bangkit dan memaksakan set kelima dijalankan? 

2. Dwi Sasono, Dwi Sasono, Dwi Sasono. Tampil sangat gemilang, fisik prima, skill mumpuni. Menghasilkan sebagian besar poin bagi tim The Actors, tidak banyak melakukan kesalahan sendiri. Jadi aktor luar biasa, tampil di lapangan tidak bisa seadanya. Hormat!

3. Surya Insomnia, Omesh, Gading Martin, Tanta Ginting, Bryan Domani a.k.a Bule Depok - servis yang kerap kali menghasilkan poin bagi timnya masing-masing. Stabil, konsisten, tenang. Menarik melihat sisi lain yang tidak terlihat di kamera selama ini.

4. Gimmick selama pertandingan: Video kedatangan pemain dari kedua tim. The Actors dengan jas rapi dan bus eksekutif, The Prediksi dengan mobil boks dan seragam olahraga, tak lupa buah tangan dan helm di kepala.
Honorable mention: Avatar Wendy, Saturo Goju Andre, "Preman" Iko Uwais, seragam penonton keluarga The Prediksi.

5. Pelukan, kecupan, tawa, air mata. Ekspresi setelah pertandingan berakhir, interaksi para pemain dengan orang-orang yang berarti bagi mereka. Tulus, menyentuh, tersampaikan.

Terima kasih Vindes Sport telah menyajikan pertunjukan olahraga yang sangat matang dirancang dan berhasil diwujudkan. Sebagai penikmat olahraga yang ingin (ke)pengurusan olahraga di Indonesia berjalan sebaik-baiknya, apa yang disajikan hari ini benar-benar menunjukkan bahwa hal itu tidak mustahil diwujudkan (selama penyelenggara/pengurus peduli dan serius untuk menjalankannya).

Salut!!

Jumat, 18 Februari 2022

Perfilman sebagai Sebuah Sistem di Indonesia: Regulasi, Produksi, Distribusi

 Perfilman sebagai Sebuah Sistem di Indonesia: Regulasi, Produksi, Distribusi

Unsur sistem termasuk diantaranya yaitu memiliki visi-misi atau tujuan, beradaptasi, serta saling berintegrasi antara fungsi dengan struktur itu sendiri. Film dan perfilman, pada dasarnya merupakan suatu bagian dari sebuah sistem yaitu industri perfilman. Sebagai bagian dari sistem, maka apa yang terjadi pada salah satu unsur atau sub sistemnya maka akan mempengaruhi jalannya suatu sistem secara keseluruhan yang termasuk ke dalam teori sturktural fungsional.

 

Menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009, film didefinisikan sebagai karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Sementara perfilman sendiri berarti segala hal yang berhubungan dengan film itu sendiri. Film juga bisa dikatakan sebagai salah satu media massa yang menghasilkan budaya populer secara masif (dalam Elsha, D. D, 20117).

 

Berbagai macam genre turut hadir di dunia perfilman, tak terkecuali di Indonesia. Salah satunya yaitu komedi. Perkembangan film dengan genre ini telah berkembang di Indonesia sejak 1950-an (dalam Chaniago, 2017). Sementara untuk genre film yang lain yaitu horor, Indonesia juga banyak memproduksinya dan merupakan salah satu genre paling potensial. Ada beberapa film yang disebut sebagai film horor Indonesia pertama diantaranya yaitu Tengkorak Hidoep (1941) karya Tan Tjoei Hock dan Lisa karya M. Shariefuddin (dalam Chaniago, 2017). Meskipun begitu, genre horor merupkan salah satu genre yang paling bisa dikembangkan dan digali dalam menerapkan teknis produksi pembuatan suatu film.

 

Dengan kemampuannya mempengaruhi dan menginformasi khalayak, film bisa menjadi sarana dalam menyebarkan kebudayaan itu sendiri. Salah satu negara yang berhasil melakukannya adalah India dengan Bollywood. Film-film India banyak masuk ke berbagai negara dimana kebanyakan film India bertemakan apa yang ada di kehidupan sehari-hari masyarakat India sehingga masyarakat pun menerimanya. Negara turut serta terlibat di dalamnya. Ini ditunjukkan dengan rata-rata jumlah produksi film India yang berjumlah >1000 setiap tahunnya. Jika dibanidngkan dengan Indonesia yang hanya mampu memproduksi maksimal 100 fim per tahun, menujukkan bahwa perbedaan prioritas terjadi.

 

Indonesia yang memiliki potensi massa justru tidak memaksimalkannya. Dengan kemiripan jumlah penduduk dan status yang sama sebagai negara berkembang, India dan Indonesia mengimplementasikan perbedaan sikap dalam melihat film sebagai suatu komoditas. Film di Indonesia seringkali hanya dianggap sebagai hiburan semata, serta memiliki nilai seni yang kecil. Aturan yang diatur pemerintah pun tidak diterapkan secara baik oleh pihak-pihak terkait. Selain itu, aturan yang ada belum mengatur secara jelas mengenai peran pemerintah dalam membantu mengembangkan industri perfilman.

 

Regulasi: UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman

Berdasarkan UU tersebut, film memiliki tujuan dimana beberapa diantaranya adalah terbinanya akhlak mulia, berkembangnya dan lestarinya nilai budaya bangsa, serta dikenalnya budaya bangsa di dunia internasional. Dengan banyaknya variasi kreativitas dan topik yang dmunculkan, tujuan dari film seperti yang dicantumkan dalam UU tersebut terlalu “berat”. Kebanyakan yang terjadi di Indonesia adalah film-film yang “baik” justru malah tidak mendapat jumlah penonton yang sama baiknya. Contohnya pada tahun ini sendiri yaitu terjadi pada film Kucumbu Tubuh Indahku yang baru saja memenangkan Festival Film Indonesia tahun ini.

 

Pada awalnya, film tersebut mendapat kecaman karena mengangkat tema yang tidak umum di Indonesia, yaitu tentang seorang laki-laki yang sebagai penari. Karena ketidakumumannya, pandangan orang terhadap film ini pun menjadi “aneh”. Padahal sejatinya hal-hal yang diangkat justru hal yang nyata meskipun memang tidak umum terjadi. Tujuan terbinanya akhlak mulia digunakan oleh sekelompok orang yang tidak peka terhadap budaya yang ada, dan menggunakan kuasa sebagai kelompok dominan untuk menolak film ini. Artinya, tujuan film tersebut untuk menginformasikan dan menunjukkan nilai budaya justru berbalik menjadi serangan bagi kreativitas dan fakta yang ada.

 

Untuk tujuan film dalam bagian berkembang dan lestarinya budaya bangsa, tingkat produksi film di Indonesia saja tidak mencukupi. Terlebih, kebanyakan genre yang beredar di masyarakat dan dikonsumsi oleh banyak orang yaitu bukan merupakan genre yang menonjolkan nilai budaya. Film Marlina Pembunuh dalam Empat Babak yang menunjukkan budaya di Sumba justru tidak mendapat jumlah penonton yang maksimal. Dalam 10 film terlaris sepanjang tahun, genre terkait budaya di Indonesia justru tidak termasuk dalam daftarnya. Hal ini juga diperkuat dengan tidak adanya genre tersebut yang diproduksi di Indonesia.

 

Tujuan paling sulit yang harus dicapai oleh film itu sendiri yaitu dikenalnya budaya bangsa di dunia internasional. Dengan kualitas yang masih kalah jauh dengan film lain - bahkan dari India - kesulitan untuk menembus dunia masih menjadi masalah. Ketiadaan peran pemerintah dalam mendukung perfilman pun turut menjadi kendala.

 

https://www.freepik.com/free-psd/cinema-time-with-3d-glasses-popcorn_7150453.htm#query=film&position=26&from_view=search

Produksi Film di Indonesia

Salah satu sutradara kondang di Indonesia, Joko Anwar, pernah menyatakan bahwa tenaga kerja perfilman di Indonesia masih sangat kurang. Hal ini turut mempengaruhi jumlah film yang diproduksi. Kesesuaian jadwal juga turut menjadi kendala karena pembuatan film membutuhkan waktu yang panjang dari pra-produksi hingga film tersebut tayang.

 

Kekurangan sumber daya manusia ini menjadi masalah serius jika pengembangan film ingin ditingkatkan. Keterbatasan ini, sejatinya justru menghambat karena proses kreatif tidak bisa dimulai, dimana insan perfilman yang terlibat sangat banyak (jika sesuai UU, maka jumlah pelaku film yang terlibat bisa lebih dari 20 pihak). Keterbatasan sumber daya manusia ini juga turut berpengaruh dalam kualitas yang dihasilkan karena pengembangan kualitas kurang diutamakan.

 

Proses produksi film yang membutuhkan waktu juga turut menjadi kendala. Dengan proses kreatif sejak dari penyusunan naskah hingga akhirnya tayang dengan teknologi yang terbatas, maka proses produksi film ada yang sampai bertahun-tahun hingga film tersebut ditayangkan. Selain itu, kepentingan riset terkait tema film perlu ditingkatkan pula untuk memunculkan hasil yang paling realistis.

 

Pemilihan bintang atau artis sebagai tokoh utama juga mempengaruhi bagaimana suatu film akan diterima atau tidak oleh pasar. Artinya, jika seorang tokoh sudah bisa menghasilkan banyak penonton, maka tidak menutup kemungkinan bahwa artis tersebut akan sering muncul di film-film yang sejenis. Ini bisa menjadi salah satu pertanda bahwa perkembangan yang stuck di satu tempat juga dialami oleh aktor sebagai salah satu unsur yang terlibat dalam perfilman.

 

Strategi Pemasaran dan Distribusi Film

Film-film Indonesia yang ditayangkan berbarengan atau berdekatan dengan film Hollywood mendapat porsi lebih sedikit di layar bioskop. Contohnya saat ini, dimana film Jumanji: The Next Level sedang tayang bersamaan dengan film Eggnoid dari PH Visinema, jumlahnya sangat bertolak belakang. Bahkan dengan jumlah layar seluruh film Indonesia yang sedang tayang dibandingkan dengan film Jumanji, jumlah jam tayang film Jumanji masih menang (di Malang, dari bioskop Movimax (16 vs 3), XXI (38 vs 0), dan Cinepolis (8 vs 1)), dengan jumlah jam tayang Jumanji sampai (10/12) adalah sebanyak 62 jam tayang, sementara jumlah jam tayang film Indonesia dijumlahkan hanya tersisa 4 jam tayang.

 

Dengan “jatah” yang diberikan hanya tidak sampai 1/10nya, distribusi film Indonesia sendiri sudah sangat terhambat. Hal ini pun selalu terjadi dan tidak pernah ada penyelesaiannya dari tahun ke tahun. Pemerintah sebagai lembaga yang membuat aturan tidak benari-benar melihat di lapangan bagaimana jika bertentangan dengan aturan Pasal 32 yang berbunyi Pelaku usaha pertunjukan film sebagaimana dimaksud pada pasal 29 ayat (3) wajib mempertunjukkan film Indonesia sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari seluruh jam pertunjukan film yang dimilikinya selama 6 (enam) bulan berturut-turut. Aturan ini memberi acuan untuk mengutamakan film Indonesia, namun justru tidak terlaksana. Ketidakterlaksanaan ini juga tidak ditindak dengan tegas sehingga pemasarana film Indonesia tidak menjangkau ke seluruh daerah jika dibandingkan dengan film-film Hollywood.

 

Penutup

Dengan segala unsur yang terlibat dalam industri perfilman, semuanya saling mempengaruhi satu sama lain. Regulasi yang kurang kuat dalam mendukung perkembangan dan pengglobalisasian hasil produksi film Indonesia, turut mempengaruhi bagaimana film Indonesia dipandang. Bahkan masyarakat kita sendiri cenderung memilih untuk menonton film Hollywood daripada film produksi lokal. Terbukti pada minggu ke-49 di tahun ini, jumlah penonton Indonesia yang menonton film Indonesia hanya berjumlah 306.171 - jumlah yang berbanding terbalik dengan total penonton dari film Jumanji saja (di Indonesia sejak tayang sudah hampir 2 juta penonton) (dilansir dari @bicaraboxoffice di twitter).

 

Dalam seluruh proses pembuatan film, sistem bekerja selama proses tersebut juga berjalan. Ekosistem yang baik akan tumbuh apabila seluruh pihak bekerjasama untuk mencapainya. Semua yang terlibat di baliknya juga harus mendukung dan mengupayakan pemerintah untuk melihat bahwa film bisa menjadi branding negara yang potensial. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan oleh seluruh aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, dengan menyajikan kualitas film yang mampu menyaingi film luar. Negara India bisa dijadikan contoh untuk menumbuhkan ekosistem yang baik dalam perfilman, terlebih dalam upaya pemerintah memberi dan membuka jalan untuk memasarkannya. Selama seluruh unsur yang terlibat dalam industri perfilman memiliki tujuan yang sama untuk mengembangkan perfilman Indonesia ini sendiri, tidak menutup kemungkinan bahwa kemajuan perfilman bukan hal yang mustahil lagi - seperti yang dikatakan Durkheim: organ-organ bekerjasama dengan baik dan menjadi tumpuan untuk menjaga eksistensi dan kesehatannya (Pip, Liz, & Shaun, 2006).


(Tulisan ini dibuat pada 2019)

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaniago, R. H. (2017). Analisis Perkembangan Film Komedi Indonesia. Journal of Communiacation (Nyimak), 1 (2), h. 189-195.

Elsha, D. D. (2017). Menengok Kelemahan Perfilman Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2), h. 230-250.

Pip, J., Liz, B., & Shaun, L. B. (2016). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Rusdiarti, S. R. (2010). Film Horor Indonesia: Dinamika Genre. Makalah. Jakarta: Program Studi FIB Universitas Indonesia.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.

Sabtu, 15 Januari 2022

Aftertaste 'Penyalin Cahaya': Capek

Durasi yang panjang, cerita Sur yang berusaha mencari keadilan, penggambaran dominasi pelaku, reaksi penanganan pelaporan, semuanya cuma ngasih capek.

Sur sebagai korban digambarkan berusaha mencari jawaban tentang apa yang terjadi pada dirinya. Kesana kemari, usaha sendiri, nanya semua orang, menelusuri malam kejadian, gaada yang dampingin dan dukung. Gimana perasaan Sur? Gaada yang tau. Apa yang bikin Sur terus maju tanpa berhenti sejenak dan merasakan sebuah emosi? Gaada yang tau.
Film ini ngasih gambaran paling realistis tentang gimana busuknya sistem penanganan pelaporan pelecehan seksual, apalagi kalo pelaku punya semua privilege yang bikin dia gabisa tersentuh. Film ini nunjukin sejelas-jelasnya, kemana keberpihakan hukum yang ada tentang pelecehan seksual - dan jelas bukan ke korban. Film ini juga motret gimana pembungkaman yang berusaha dilakukan oleh instansi, semua jawaban adalah cara kekeluargaan untuk menjaga nama baik.
Sayangnya, ruang untuk korban bisa menunjukkan perasaannya, sangat sedikit dimunculkan. Sur digambarkan hanya sedang mencari keadilan, bukan sebagai indvidu yang punya kehidupan. Sur seolah lepas dari dirinya selain untuk mengisi peran sebagai korban.
Sur = korban, bukan individu yang punya beragam peran, perasaan, atau sekadar menertawai suatu hal. Sur hanya hidup sebagai korban. Ditindas, dilukai, berjuang sendiri.
Capek.


Penggambaran korban yang mencari pelakunya sendiri?pertanyaan yang masih belum bisa terjawab.


Kontroversi yang datang bersama film ini, ironi. Komentar tentang film ini yang tidak bisa melepaskan tentang gimana pembuat film ini terlibat di dalamnya dan bisa dilihat sebagai sudut pandang yang harus diperhatikan : https://twitter.com/thepoemzone/status/1481822737786097667?t=jBmWu4f-ZjtdkxICF0t6Zg&s=19 (Penting untuk dibaca:)



Jumat, 10 Desember 2021

Kenapa "Yuni" Menjadi Film Paling Penting untuk Ditonton?


Setelah selesai liat trailer Yuni bulan lalu, film ini langsung masuk daftar film yang harus ditonton di bioskop. Hari ini, 10 Desember, Yuni berhasil nunjukin hal-hal yang selalu ada di sekitar kita, tapi seringkali kita abai menyadarinya.
Yuni sebagai seorang anak perempuan, SMA akhir, hidup dengan kesehariannya. Punya minat, kesukaan, dan cita-cita - yang meskipun belum jelas apa bentuknya, Yuni jelas sudah mengetahui apa yang tidak dia inginkan.
Yuni menawan, pintar, dan berani. Yuni terbuka, punya keingintahuan yang tinggi, mau terus belajar. Hubungannya dengan teman, keluarga, manis. Dunia yang ia miliki.
Bagaimana Yuni menjalani hari tidak jauh berbeda dengan apa yang dijalani kita, adik perempuan kita, saudara perempuan kita. Kita belajar, bersenang-senang. Yang berbeda adalah, Yuni tumbuh di lingkungan yang memaksanya untuk terus mempertanyakan dirinya. Perannya sebagai seorang perempuan. Lingkungan yang terjadi di sekitar kita.
Yuni tumbuh dengan melihat perlakuan masyarakat terhadap perempuan, tidak pernah membebaskan perempuan untuk memilih. Yuni hidup bersama dengan anggapan yang menyuburkan pandangan bahwa perempuan akan selalu memiliki pilihan yang terbatas.
Sepanjang film, penggambaran bagaimana Yuni menjalani hari-harinya bener-bener berasa nyata. Sosok yang ada di sekitar Yuni punya perannya masing-masing - mulai dari Nenek, Bu Kokom, Pak Damar, Bu Lies, sampai Yoga dan Suci - yang akhirnya juga membentuk Yuni. Nggak ada sosok yang sia-sia, dihidupkan dengan sangat amat baik oleh para pemerannya.
Yuni menunjukkan apa yang selama ini sering terlewatkan, bahwa perempuan juga merupakan individu yang merdeka. Nggak ada salah-benar, nggak ada buruk-baik. Yang ada hanyalah potongan peristiwa yang dikemas secara sinematis, bercerita. Ada Yuni-Yuni lain di luar sana. Ada Suci yang lain di luar sana. Dan apa yang dilakukan oleh Pak Damar, Iman, serta Mang Dodi, masih selalu terjadi, setidaknya, disini.
Saat lagu Mimpi dinyanyikan oleh Yuni, perasaan marah, geram, sedih, dan anehnya, lega, jadi penutup paling menyentuh.
Yuni masih bercerita di bioskop. Selagi sempat (harus disempatkan), tonton. Selamat menikmati.

Sabtu, 18 Juli 2020

Kenapa Mau ASUS VivoBook S14 S433?

Makin hari, manusia makin menikmati keberadaan teknologi. Apa bener?
BENAR!

Menuju skripsian, butuh laptop buat ngetik, ngumpulin data, sampe ujian online. Kalo disodorin ASUS VivoBook S14 S433, siapa yang bisa nolak coba?
Mau warna Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, atau Resolute Red, pasti bakal diterima. Orang warnanya memuaskan mata banget kok. Yang ada malah pengen punya beda-beda warna biar disesuaiin sama mood-nya. Dan udah jelas, GAYA TAPI PRODUKTIF. Mau liat warnanya? Nih:

cakep banget ya…
Laptop ini punya ukuran14 inc, dan beratnya cuma 1,4 kg! Pake totebag juga masuk ini laptop. Pas buat dibawa-bawa, dan buat nonton series. Udah gitu nggak bikin sakit bahu karena nggak keberatan. Siap berangkat kemana pun sambil bawa laptop!
Visual udah oke, waktunya nengok performanya. Buat nampilin gambar, layarnya udah Full HD dan menonjolkan warna-warna yang ditampilkan. Nyambung sama grafisnya yang didukung NVIDIA GeForce MX250 dan Intel UHD Graphics. Suaranya juga mendukung. Dengan suara dari harman/kardon yang sudah bersertifikat, bisa lupa skripsian dan malah nonton film atau series deh. Atau karokean, hehehe.
Abis nonton series, mau belajar bikin efeknya? Bisa lah. Prosesornya Intel Core 10th Generation, wahai. Selamat tinggal nunggu laptop siap pakai kalo abis dinyalain:) Udah nggak emosi lagi tiap nyalain laptop.
Pas ke kampus buat bimbingan sama dosen, buru-buru harus nyalain laptop sih udah nggak panik lagi. Loginnya bisa pake fitur Hello Windows yang memanfaatkan sidik jari dan pemasangan foto login. Cepet deh nyalanya. Nggak jadi diomelin dosen karna laptop masih mati. Udah gitu bikin kemanan laptop jadi bagus juga. Nggak semua orang bisa nyalain, bro.
Kayak gini nih Hello Windows

Abis direvisi sama dosen pengen langsung nongkrong ke perpustakaan sambil nyari materi. Duh, batrenya abis. Lupa dicharge semalem abis dipake nonton. Charge dulu deh sambil baca-baca dan nyatet. Nanti baru diketik pas batrenya udah aman.
Baru 49 menit, cek laptop lagi ternyata udah 60%. Gini toh yang fast chargingnya bukan basa-basi. Terus pas banget langsung ditelpon temen buat ikut nongkrong di kafe. Berangkat deh. 60% mah udah bisa buat ngetik sambil nongkrong.
Sampai di kafe, waktunya nyalain laptop. Temen di sebelah langsung komentar, 
"Keyboardnya lucu amat. Cahaya remang-remang gini kok masih bisa keliatan?" 
Sambil cengengesan, ku jawab aja, "Yoi dong, keyboard backlit ukuran penuh gitu loh!"
“Warna merahnya nggak norak ya, pengen beli juga deh,”
“Boleh. Tapi kalo buat karaktermu mah, warna dreamy silver lebih cocok. Lebih kalem,”


“ASUS VivoBook S14 S433 kan? Kayaknya emang aku cocokan itu ya daripada merah ini,”
“Betul sekali kawan”
Sambil nongkrong sambil revisian, mau minta referensi dulu. Untung aja dia bawa flashdisk, jadi bisa cepet transfer file. USB Type C memang sangat mendukung. Memorinya juga nggak abis-abis, soalnya 512+32 GB. Dokumen skripsi sampe foto-foto dari jaman SMP juga nggak perlu diapus. Masih sisa banyak.
Kurangnya apa sih laptop ini?
Semua yang aku butuh dan mau kok ya disediain semua kayak gini


 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -   -   -   -   -   -   -    -    -    -    -    -    -     -     -     -     -     -     -
Indah banget bayanganku kalo beneran dapet laptop ini. Udah tau mau dipake buat apa dan kemana. Eiya tapi lagi pandemi Covid-19. Nunggu mereda deh baru dibawa nongkrong.
Kalo nggak reda-reda juga, dipake di rumah juga tetep bikin gaya. Kalo perlu banget dibawa keluar, maskernya tetep dipake ya.
Jaga jarak, dan jangan lupa cuci tangan selalu!

Minggu, 28 Juni 2020

Perubahan Sosial dalam Tindakan Sosial dan Interaksi Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19

Kementerian Kesehatan Indonesia melalui situs kemkes.go.id menjelaskan bahwa Covid-19 merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Pada Covid-19 ini, belum jelas bagaimana awal penularannya. Namun diduga, virus ini menyebar dari hewan ke manusia karena pada awal kemunculannya di Wuhan, pasien yang terkena memang mempunyai kontak dengan pasar hewan.
Virus ini sedang menyerang seluruh dunia dan mengganggu stabilitas negara-negara. Dengan cara persebaran yang cepat, yaitu melalu droplet yang bisa muncul jika batuk atau bersin, jumlah masyarakat yang terjangkit pun meningkat dengan sangat cepat. Hingga 28 Juni 2020 sendiri, di Indonesia jumlah penderitanya mencapai 52.812 dengan jumlah yang meninggal mencapai 2.720 jiwa. Sementara di dunia, jumlah penderitanya mencapai hampir 10 juta jiwa yang tersebar di 213 negara.
Dengan jumlah persebaran yang menyeluruh, sementara vaksin untuk menanggulangi virus ini belum ditemukan, mulai bermunculan imbauan mengenai perubahan yang bisa dilakukan. Di dalam Sosiologi, pembahasan terkait bagaimana masyarakat dalam sistem sosial, terutama dalam menyoroti perubahan penting untuk dilakukan. Dalam skala sempit, perubahan yang dituju meliputi perubahan pola pikir dan perilaku individu. Sementara di skala besar, perubahannya sampai pada tahap struktur yang nantinya akan mempengaruhi perkembangan masyarakat di kemudian hari (Martono, N. 2012) .
Istilah new normal belakangan ramai terdengar, terlebih setelah melihat bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencegah persebaran Covid-19 masih tidak bisa dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat. Isu ini juga semakin berkembang setelah pernyatan Presiden RI pada 7 Mei lalu, bahwa masyarakat perlu berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan sampai vaksin ditemukan.
Dilansir dari okezone.com, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmita menjelaskan bahwa new normal merupakan kehidupan yang akan dijalankan seperti biasa ditambah dengan protokoler kesehatan. Protokol kesehatan untuk menghadapi Covid-19 diantaranya, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menggunakan masker, menjaga jarak dan beraktivitas di rumah menjadi hal baru yang wajib dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19.
Sementara dilansir dari tirto.id, jenis new normal yang dilakukan oleh setiap individu dengan berbagai pekerjaan juga berbeda. Ada yang di depan laptop sesuai jam kerja, ada yang jam kerjanya semakin tidak karuan, hingga pola tidur yang berubah. Hal-hal ini turut mempengaruhi segala lini, tidak hanya orang yang bekerja melainkan juga pelajar hingga orang tua yang kembali belajar mengenai teknologi untuk membantu berinteraksi dalam aktivitas sehari-hari.
Adanya new normal di masyarakat ini menunjukkan pola perubahan skala kecil, karena masih belum menggoyang struktur yang ada. Namun, keberadaan protokol kesehatan dalam ruang publik yang menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer menjadi contoh awal dalam memulai perubahan besar. Lebih jauh, perubahan dari setiap individu dalam tindakan dan perilaku sehari-sehari, menjadi salah satu bentuk perubahan yang terjadi.
Mengenai tipe tindakan sosial, Weber beranggapan bahwa suatu kelompok masyarakat dikatakan rasional apabila di dalamnya terbangun institusi sosial yang rasional dan para masyarakatnya bertindak secara rasional pula (dalam Ghofur, A. (2018)). Dalam melakukan tindakan rasional, terdapat unsur berupa tindakan instrumental nilai yang meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar, berhubungan dengan tujuan tindakan, dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Tindakan rasional intrumental menggambarkan pada tujuan-tujuan yang lain dan alat-alat atau cara yang dianggap paling efisien dan efektif untuk mencapai tujuan (dalam Ghofur, A. (2018)).
Dari yang sudah terjadi selama kurang lebih 2 bulan belakangan, masyarakat mulai melakukan tindakan berdasarkan rasionalitas. Karena virus sangat mudah berkembang dan menyebar, perilaku sehat seperti mencuci tangan dengan baik dan benar, serta selalu menggunakan masker saat pergi ke ruang publik menjadi bentuk dari rasionalitas masyarakat. Dengan alat-alat yang demikian, tujuannya jelas: mencegah individu dari terpapar Covid-19.
Selain itu, penerapan social distancing juga mengubah bagaimana masyarakat berinteraksi. Pemanfaatan teknologi menjadi cara utama kini saat pertemuan antar-individu tidak bisa dilakukan. Bila biasanya kegiatan ngumpul-ngumpul dan nongkrong kerap kali dilakukan untuk bercengkrama, kini hal tersebut menjadi hal yang membahayakan karena bisa membuat individu terpapar virus ini. Perilaku salaman, berpelukan, hingga cium pipi kiri-kanan juga sudah tidak bisa diterapkan karena bisa menjadi awal persebaran virus.
Bentuk komunikasi yang berubah juga bisa mempengaruhi bagaimana hubungan antar individu. Kenyamanan dari berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung tidak serta merta bisa dipenuhi oleh keberadaan teknologi. Selain itu, komunikasi non-verbal yang melengkapi pemaknaan pesan juga tidak sepenuhnya diwakili dan muncul dalam komunikasi yang dilakukan melalui media-media yang ada.
Komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi, hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada, seperti sentuhan dan gerakan tubuh yang membawa pesan kinestetik dan gestural . (Kusumawati, 2016).
Hanya dengan teknologi, masyarakat kini berhubungan satu sama lain. Perubahan cara berinteraksi inilah yang pada akhirnya bisa menghubungkan antar individu. Cara berkomunikasi yang berubah, serta ketergantungan akan teknologi yang semakin tinggi menjadi dampak dari pandemi Covid-19 ini.
Bagi anak-anak, mereka sudah tidak bisa lagi bermain di luar dan bertemu secara langsung dengan teman-temannya. Padahal, anak-anak sedang dalam usia tumbuh kembang untuk belajar berinteraksi dengan teman-temannya.
Bagi orang dewasa, pekerjaan menjadi terganggu, apalagi yang berkaitan langsung dengan penerapan protokol kesehatan, seperti di sektor pariwisata, event, serta hal-hal yang berkaitan dengan hiburan. Belum lagi menghitung berapa banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja selama pandemi ini.
Bagi orang yang sudah tua dan biasanya tidak terlalu “akrab” dengan teknologi, mempelajarinya pun menjadi hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan tanggung jawab. Bagaimana fitur digunakan, apa saja yang perlu diperhatikan, serta bagaimana agar pesan atau informasi yang disampaikan bisa dipahami, menjadi tantangan juga.
Meskipun dampak yang dirasakan begitu berbeda, bagi orang-orang yang punya pilihan beradaptasi, akan cenderung melakukan hal-hal tersebut. Individu tersebut akan menerapkan protokol kesehatan mendasar seperti cuci tangan dan bermasker, serta tidak kemana-mana melainkan hanya di rumah. Hal ini merupakan pilihan rasional mereka yang tujuannya jelas.
Meskipun begitu, masih ada juga individu yang belum melakukan perubahan tersebut karena terbentur keadaan dan keterbatasan. Sejatinya perubahan secara individu memanglah suatu keistimewaan, karena tidak semua bisa menikmatinya. Perubahan secara makro yang mengubah struktur masih belum dapat terealisasikan, karena negara belum menetapkan aturan dan kesedian total untuk mewujudkannya. Dalam kondisi seperti ini, yang penting untuk diperhatikan adalah tetap berupaya menjaga kebersihan demi keselamatan individu itu sendiri.

Referensi:
1. Ghofur, A. (2018). Tindakan Sosial dalam Novel Yasmin Karya Diyana Millah Islami (Teori Tindakan Sosial Max Weber), Bapala, 5(2), h.1-11.
2.  Kusumawati, I. N. (2016). Komunikasi Verbal dan Nonverbal, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 6(2), h. 83-98.
3. Martono, N. (2012). Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern Posmodern dan Poskolonial. Jakarta, RajaGrafindo Persada
4. Putri, R. D. (May 11, 2020). Menjalani ‘The New Normal’, Cara Berdamai dengan Virus Corona?. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/menjalani-the-new-normal-cara-berdamai-dengan-virus-corona-fp33
5. Satrio, A. D. (May 13, 2020). Muncul Istilah ‘New Normal’ di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu?. Okezone.com. Diakses dari https://nasional.okezone.com/read/2020/05/13/337/2213181/muncul-istilah-new-normal-di-tengah-pandemi-covid-19-apa-itu?page=2

start new.

Hai, 
Apa kabar?
Buruk? Iya, dunia emang lagi penuh sama kabar buruk. Tapi tetep inget kalo kabar buruk pasti dateng sepaket sama kabar baik, itu aja. Cukup inget kalo semua ada masanya, sama kayak kabar baik dan kabar buruk, cuma gantian aja hadirnya.

Dunia berubah banyak ya.
Sama kayak manusia.
Sama juga kayak aku.

Hari ini aku dateng kesini lagi. Bawa kabar, baik atau buruknya bukan bagianku yang nilai, tapi ini tetep sebuah kabar.
Cuma mau ngabarin kalo mulai saat ini, tempat ini akan jadi sedikit berbeda. Aku bertumbuh, semoga menjadi lebih besar hati dan rasional. Pikiranku bermacam-macam, berbeda-beda. 

Semoga masih membawa manfaat dan cerita.

Salam kenal,

-ridha-

Sabtu, 25 Maret 2017

Memberi tawa

Aku baru menyadari betapa berartinya seseorang, di saat dunia sedang menyebalkan dan ia tiba-tiba saja mampu membuatku tertawa. Bahkan ia tidak merencanakannya. Namun melihat tingkahnya, rasanya begitu menyenangkan.

Tanpa ia sadari, hanya dengan memikirkan kekonyolan yang pernah ia lakukan, rasanya cukup. Hanya dengan memikirkan semua kenangan menyenangkan yang pernah dihabiskan bersama, rasanya cukup.
Cukup untuk membuatku mampu bertahan di situasi menyebalkan ini. Cukup untuk membuatku merasa jauh lebih tenang. Cukup membuatku terkendali. Cukup membuatku merasa, senang.

Dan aku juga baru menyadari - bahwa setelah beberapa waktu - perasaan seperti ini kembali menyapaku.

Minggu, 29 Januari 2017

Rutinitas

Berbagi cerita denganmu - meski itu hanya hal remeh sekalipun - menjadi rutinitas baru, yang juga baru ku sadari.

Ya, rutinitas.

Meski aku tau bahwa ini tidak akan berlangsung lama. Meskipun aku tau bahwa kebiasaan ini tak menjadi hal yang penting untukmu. Dan tentu saja, aku tau segala sesuatu yang terjadi sekarang tidak pernah kau maksudkan untuk membuatku menikmatinya.

Dan sejujurnya, pada awalnya pun aku tak menyangka bahwa berbagi cerita denganmu akan menjadi hal yang sangat ku nikmati, sangat ku nanti.
Yang sedang ku rasakan kini.

Rutinitas - kebiasaan - yang sedang terjadi sekarang, begitu menyenangkan. Aku tau bahwa ini akan menjadi cerita menyenangkan saat segala sesuatu telah berbeda. Aku tau bahwa ini akan menjadi kenangan manis saat segala sesuatu tak lagi sama.
Aku tau bahwa ini hanya sementara. Namun aku juga tau bahwa rutinitas ini membawa bahagia yang berbeda, yang sudah lama tak datang menyapaku.


Maka aku memutuskan untuk menerimanya.  

Mengabaikan kemungkinan terburuk yang biasanya selalu ku pikirkan. Mengabaikan akibat yang akan hadir kemudian. Hanya membiarkan keadaan menuntun jalan di depan. Membiarkan keadaan yang membantu memilih jalan ceritanya. Membiarkan keadaan yang mengalir, untuk dinikmati.


Meski aku tau - pada saat rutinitas ini tak lagi bisa disebut rutinitas - aku telah mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga untukku.

Kamis, 19 Januari 2017

Terserah

Terserah apa yang kau katakan. Terserah apa yang kau pikirkan. Apapun, aku tidak peduli lagi.
Apalagi yang harus ku lakukan saat aku sudah memutuskan untuk percaya dan kau hancurkan begitu saja? Apalagi penjelasan yang kau butuhkan saat aku benar-benar telah memperjuangkan segala sesuatunya untukmu? Apalagi pilihan yang bisa ku ambil jika kamu telah memilih untuk pergi?

Tidak, rasanya sudah tidak menyakitkan lagi. Aku sudah hafal dengan rasa itu saat berurusan denganmu. Bahkan saat ini, air mata pun enggan memunculkan diri. Karena yang tersisa kini hanya...

..kosong.

Aku lelah selalu menjelaskan banyak hal padamu  namun kamu tidak pernah mau menerima penjelasan itu.
Aku marah karena kamu selalu memutuskan banyak hal untukku meski jelas-jelas aku tidak menginginkannya.
Aku bosan membiarkanmu ada dan memunculkan harap padahal yang kamu butuhkan hanya pelampiasan.

Kamu tidak memberiku pilihan, maka aku memilih untuk mengikuti pilihanmu. Pergi membuat jarak denganmu sampai aku merasa, lega.

Karena dengan kekosongan yang aku rasakan sekarang, ku pikir aku sanggup bertahan menghadapi banyak hal, karena aku bisa memilih mengisi kekosongan itu dengan apa yang sungguh-sungguh ku inginkan.


Dan tentu saja, membawa bahagia yang ku nantikan.

Minggu, 15 Januari 2017

Perasaan yang menyebalkan

Aku tau dengan jelas, bahwa keputusanku untuk menghapus perasaan yang hadir untukmu itu benar. Aku dan kamu berbeda. Kamu begitu jauh. Membuatku hanya berani mengamatimu diam-diam. Membuatku hanya bisa tetap di tempat. Membuatku begitu ragu untuk mencoba berjalan di sisimu.

Meskipun aku sangat menginginkannya.

Aku sadar bahwa perasaan yang lebih ini, tidak akan selesai dengan baik jika aku berani menumbuhkannya. Aku cukup tau diri, mengetahui seperti apa, atau siapa yang cocok untukmu. Mengetahui apa, dan dimana tempatmu merasa nyaman.

Tapi kadang, di saat aku sedang pelan-pelan menghabisi perasaan ini untukmu, kamu hadir. Semakin memesona, semakin sulit untuk ku abaikan. Membuatku begitu ingin membiarkan perasaan ini tumbuh semakin banyak. Membuatku begitu ingin memberitahumu apa yang sesungguhnya aku rasakan.

Yang mati-matian langsung berusaha ku padamkan.

Sungguh, perasaan yang datang-pergi sesuka hati ini, bisa sangat menyebalkan.

Terutama di saat aku harus memilih lagi, antara membiarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya - termasuk perasaan - atau mencoba menghilangkannya segera.

Rabu, 11 Januari 2017

Tentang kamu

Aku hanya bisa tersenyum mendengar ia membicarakan tingkahmu. Bukannya aku marah atau tidak senang. Namun aku tau bahwa aku mengenalmu jauh lebih banyak. Ia menceritakannya seolah-olah aku belum mengetahuinya. Padahal, mungkin , tanpa ia atau yang lain sadari, aku mengenalmu jauh lebih baik. Mengetahui kebiasaan, hingga kesukaan atau ketidaksukaanmu terhadap sesuatu.

Dan rasanya, menyenangkan melihat seseorang baru melihat sisimu yang itu sementara aku telah mengetahuinya jauh lebih dulu.

Aku sendiri tidak pernah yakin bahwa aku tau banyak tentangmu. Aku hanya memerhatikanmu. Tidak berusaha banyak bertanya untuk mengetahuinya. Hanya menonton dan melihat kamu dari tempatku.

Aku sendiri, tak pernah yakin bahwa aku tau banyak tentangmu.
Sampai ia mengatakan bahwa kamu seperti ini, kamu seperti itu.

Dan aku telah mengetahuinya. Lebih dulu.

Membuatku menyadari bahwa aku cukup banyak mengetahui tentangmu.

Dan aku menyukai perasaan yang muncul sesaat setelah aku menyadarinya.