Rabu, 11 Januari 2017

Tentang kamu

Aku hanya bisa tersenyum mendengar ia membicarakan tingkahmu. Bukannya aku marah atau tidak senang. Namun aku tau bahwa aku mengenalmu jauh lebih banyak. Ia menceritakannya seolah-olah aku belum mengetahuinya. Padahal, mungkin , tanpa ia atau yang lain sadari, aku mengenalmu jauh lebih baik. Mengetahui kebiasaan, hingga kesukaan atau ketidaksukaanmu terhadap sesuatu.

Dan rasanya, menyenangkan melihat seseorang baru melihat sisimu yang itu sementara aku telah mengetahuinya jauh lebih dulu.

Aku sendiri tidak pernah yakin bahwa aku tau banyak tentangmu. Aku hanya memerhatikanmu. Tidak berusaha banyak bertanya untuk mengetahuinya. Hanya menonton dan melihat kamu dari tempatku.

Aku sendiri, tak pernah yakin bahwa aku tau banyak tentangmu.
Sampai ia mengatakan bahwa kamu seperti ini, kamu seperti itu.

Dan aku telah mengetahuinya. Lebih dulu.

Membuatku menyadari bahwa aku cukup banyak mengetahui tentangmu.

Dan aku menyukai perasaan yang muncul sesaat setelah aku menyadarinya.

Jumat, 06 Januari 2017

Rindu.

Hari ini, aku sedang merindukan kebersamaan kita.

Banyak waktu yang lewat begitu saja tanpa sapa diantara kita. Pun bertatap muka. Tanpa kita sadari, masing-masing telah disibukkan dengan dunia barunya. Dunia tanpa aku, dia, kita, atau mereka disana.

Dulu kita berada pada satu masa yang sama. Saling berbagi tawa, tanya, duka dan bahagia. Kau disana saat aku lelah dan aku selalu berusaha untuk membantumu saat kamu membutuhkannya. Selalu seperti itu, di saat kenyataan masih sama menyenangkannya dengan mimpi.

Aku merindukan obrolan menyenangkan yang pernah terjadi. Saat saling meledek menjadi simbol kedekatan yang nyata. Saat saling menasihati menjadi bentuk kepedulian yang sesungguhnya. Sebanyak apapun kita bercanda, tak pernah kita lupa untuk tetap selalu mengingatkan. Saling menjaga satu sama lain dari kejatuhan.

Hari ini aku merindukan kebersamaan kita. Semua obrolan, nasihat, tawa, kemarahan, dan kecewa yang pernah terjadi, saling tumpang tindih di pikiranku.
Tentu saja aku mengerti bahwa waktu terus berjalan, selalu meminta kita untuk terus bergerak. Dan tentu saja aku juga ingat, bahwa setiap manusia pasti selalu mengalami proses pendewasaan. Perubahan. Dan yah, aku juga tau bahwa sekarang, kita sedang mengejar mimpi masing-masing. Membangun semuanya dari ketekunan, kejujuran dan kerja keras.

Aku mengerti, karena aku pun juga sedang melakukannya. Sedang berusaha keras menyusun kepingan-kepingan mimpiku.

Tak ada yang bisa disalahkan dari perasaan enggan (untuk masih berkomunikasi) yang mulai muncul saat kita sudah menikmati dunia baru kita. Tak masalah, aku mengerti. Aku hanya sedang merindukan masa yang sudah terlewati itu. Masa-masa yang, menyenangkan.

Kawan, selalu ingat hari-hari yang pernah kita lewati bersama, ya? Sedikit tak masalah, selama kau terus mengingatnya..





P.s : berkumpul bersama sekali-sekali tidak akan mengganggu perjalanan kan?
Jangan ragu meluangkan sedikit waktumu, untuk mereka yang pernah ada di hidupmu😊

Rabu, 28 Desember 2016

Lihat Aku.

Aku hanya ingin kau melihat ke arahku. Berbalik, dan membiarkan aku berjalan di sisimu.
..untuk sebentar saja.

Bukan saat kau butuh, baru kau mencariku
Bukan saat aku panggil baru kau memalingkan wajah dan melirik selintas
Bukan.
Aku ingin kau berhenti menatapnya
Mengharapnya lagi dan lagi.
Kau selalu berusaha ada untuknya
Kau selalu membantunya
Kau selalu berusaha membuatnya senang
Kau selalu ingin menjadi tumpuannya

Tapi tidakkah kau sadari?

Di saat kau terlalu mementingkannya, kau melupakan dirimu.
Dan aku disitu untuk mengingatkanmu. Selalu.

Di saat kau susah, aku yang selalu berusaha untuk disana
Saat kau butuh bantuan - bahkan sebenarnya sebelum kau sadar bahwa kau butuh bantuan - aku sudah melakukannya.
Dan hasilnya, tentu saja aku menjadi orang yang selalu menolongmu. Menjadi orang yang tidak pernah berhenti membantumu untuk menyelesaikan masalahmu. Menjadi orang yang berjalan di belakangmu.

Sejujurnya, aku ingin, untuk sekali saja;
tanpa perlu ku minta, tanpa perlu ku panggil, tanpa perlu ku cari

...kau disana.

Ada untukku.
Di saat aku benar-benar membutuhkannya.

Untuk sekali saja..

Jika memang tidak bisa, biarkan aku disana karena,

aku hanya ingin terus disana.

Menatap punggungmu seperti yang selalu kau tunjukkan. Menatap punggungmu dari belakang.
Mencoba untuk tetap membantumu karena, yah, memang hanya itu yang bisa ku lakukan.


Tapi sungguh, sesuatu yang harus kau tau;

Jangan biarkan aku terus menatap punggungmu di saat kau sudah mampu menggenggam tangannya.

Senin, 05 Desember 2016

Tak ada yang tau

Rasa-rasanya, sudah cukup lama aku menyusuri jalan ini seorang diri.
Yah, tentu saja tetap dibantu oleh mereka yang tak pernah berhenti mengingatkanku akan hal-hal baik yang harus aku perhatikan
Dan yah, tentu saja, kadangkala, ia menyapaku tiba-tiba dan membuatku terdiam beberapa lama sebelum memutuskan untuk kembali meneruskan langkah.

Tapi kita memang tak pernah tau apa yang akan terjadi, bukan?

Akhir-akhir ini, entah kenapa, kamu sering menemaniku menyusuri jalan. Kau melangkah di sisiku, berbagi tentang banyak hal. Atau ternyata, malah aku yang hadir di jalurmu? Entahlah. Tapi yang jelas, sengaja atau tak sengaja, akhir-akhir ini, kita menyusuri jalan bersama-sama.

Jalurku dan jalurmu sedang bersilangan. Kita bertemu, berbagi ruang dan saling mengisi. Tanpa persetujuan, tanpa kepastian, hanya menikmati keadaan. Tanpa janji, tanpa pengungkapan. Hanya kenyataan yang menjelaskan bahwa kau dan aku memang sedang berada di jalan yang sama.

Kau dan aku berbagi tawa. Juga risau, canda dan rencana. Aku menikmatinya. Dan ku pikir, kamu juga tidak terganggu dengan kehadiranku kan?

Kehadiranmu, sejujurnya membuatku nyaman dan merasa aman.

Entah sampai kapan, aku dan kamu bisa terus bersama menyusuri jalan ini. Entah sampai kapan, kau dan aku bisa saling bantu untuk melewati rintangan yang ada di jalur ini. Entah sampai kapan aku bisa melihatmu di sisiku, dan merasakan ketenangan mengetahui aku tak lagi sendirian dalam menghadapi tantangan disana.

Kehadiranmu baru sebentar, namun efek yang kau bawa begitu besar.
Sejujurnya, aku belum cukup siap untuk menerima efek yang kau bawa. Namun, apalagi yang bisa ku lakukan selain menikmatinya?

Tak ada yang tau, bahwa mungkin saja esok kau memutuskan untuk memutar arah, atau berbelok menjauhi jalur ini. Tak ada yang tau, bahwa mungkin saja nanti aku memilih untuk diam dan membiarkanmu berjalan duluan.
Tak ada yang tau bahwa mungkin saja, jalur ini memang diciptakan untuk kita susuri bersama.
Tak ada yang tau:)

.

.

Selama waktu masih mengizinkanmu ada di jalanku, atau aku yang hadir di jalanmu, maukah kau tetap disana? Maukah kau membiarkanku tetap disana? Membuat kenangan bersama, agar kelak mampu membawakanku bahagia jika keadaan telah jadi berbeda?

Sabtu, 03 Desember 2016

Bahagiamu

Melihatmu yang semakin sering tertawa, aku sungguh ingin selalu ada di saat-saat itu.
.
.
.
Aku tidak ingin berpikir terlalu banyak. Jika memang aku mampu membuatmu tertawa dan bahagia, membantumu melupakan kegelisahan yang sedang kau rasakan, membantumu menghilangkan resah yang kau pikirkan, maka aku ingin terus melakukannya.

Tawamu sungguh membawa bahagia.

Tak masalah bila itu harus ku lakukan dengan susah payah. Tak masalah jika mereka bilang aku tak tau diri. Tak masalah aku dianggap terlalu ikut campur urusanmu.

Tenang saja, aku tetap tau batasannya. Aku tau apa yang aku lakukan.
Kau tidak akan menjatuhkanku hanya untuk 'bahagia' kan (yang tentu saja tidak akan ku lakukan dan kau pasti tau itu)? Karena aku mengenalmu itulah, maka aku ingin ada untuk melihat, dan membuatmu bahagia

Selama kamu bahagia, aku akan menjadi orang yang sama bahagianya - bahkan, (mungkin) melebihi bahagia mu.



Berlebihan? 

Kau tidak akan mengatakannya jika kau merasakannya,

karena bahagia memang hanya sesimpel itu😊