Minggu, 02 Oktober 2016

berbagi tawa

Kadang-kadang, sikapmu yang menyenangkan dan tak terduga, membuatku merasa..

Istimewa.

Salahkah jika ku kira bahwa kau telah menerima kehadiranku?
••

Akhir-akhir ini, kau tak mau pergi dari kepalaku. Entah kenapa, selalu saja ada hal yang membuatku mengingatmu.
Aku ingin mengenalmu, menghabiskan banyak waktu bersamamu.
Menikmati keheningan yang kau ciptakan, sampai aku tak tahan untuk mengganggu kesibukanmu.
Mendengarmu menceritakan hal-hal yang tak terduga.
Membagi bahagia dan tawa yang bisa ku hadirkan.

Tahukah kau kini aku menjadi semakin egois? Aku menyimpan semua tentangmu untukku seorang diri. Aku menginginkanmu untuk terus bercerita kepadaku, hanya karena aku menginginkannya. 


Ah, sejujurnya aku menyukainya.


Hari itu, kala kau dan aku berbagi tawa, terbersit dalam benakku agar waktu mau tinggal lebih lama. Agar aku, bisa mengamati kesenanganmu yang nyata. Agar aku, menikmati bahagia yang ada.

..Agar aku, semakin memahami duniamu yang tak terbaca.



Sejak tawa kita bersama di hari itu, aku menyadari bahwa aku semakin.. luluh.


Menyerah dengan kenyataan bahwa aku tak boleh benar-benar 'jatuh' kepadamu.

Senin, 05 September 2016

Begitu saja

Aku pikir aku tak akan merasakannya dalam waktu dekat ini. Namun tidak ada yang pernah tau kan, kapan dan bagaimana hati bisa tersentuh dengan begitu tepat?
Setelah semua kerusakan yang ditinggalkannya, ku pikir aku akan berantakan dalam waktu lama. Tapi nyatanya, kamu begitu menarik perhatian dan pada suatu waktu, kamu melakukan suatu hal yang membuatku..

Meleleh.

Tersentuh begitu saja.

Sunguh, aku benar-benar tak menyangka bahwa kamu yang melakukannya. Bahwa kamu, seolah menemukan celah untuk membuatku merasakannya. Tanpa aba-aba.

Senin, 03 Agustus 2015

butuh kopi

Gue adalah pecinta coklat panas yang anti banget sama kopi. Tidak ada ruang sedikitpun untuk sesuatu sepahit kopi.

Tapi lo suka kopi.

Buat lo, kopi adalah sesuatu yang lo butuhkan untuk membuat lo lebih waras. Sesuatu yang lo butuhkan untuk membuat lo menjadi lebih tenang, lebih sabar, dan bisa meredakan (sedikit) emosi lo yang meledak-ledak. Kopi menjadi semacam candu yang harus ada saat lo sedang dalam kondisi tidak baik.
.
.
.

Dan sekarang, lo pasti akan terkejut dengan apa yang sedang gue genggam.

Iya, secangkir kopi.

Karena buat gue, secangkir coklat panas ‘hanya’ memberi efek berupa pemanggil kantuk yang menyenangkan, sekaligus sebagai teman membaca dan belajar yang asik.

Tapi bukan itu yang gue butuhkan sekarang.

Gue butuh sesuatu yang bisa membuat gue menjadi lebih waras, lebih tenang, lebih sabar dan sekaligus menenangkan emosi dan pikiran gue. Dan karena nenurut lo secangkir kopi dapat melakukannya, then I’m trying.

Karena semua mendadak menjadi berbeda.

Karena semua tiba-tiba tak lagi seperti biasa

Karena, ga ada lagi lo disini.




… where are you?

Jumat, 01 Mei 2015

bosan?

Ada waktu dimana gue berusaha untuk menahan lo
Tapi di saat gue mencoba menahan lo, lo menolaknya
Sekarang,
Semua kepedulian gue lo anggap basa-basi
Semua pengertian gue lo anggap ga berguna
Semua kesabaran gue, lo anggap angin lalu.
Gue gatau gimana waktu udah ngubah semuanya
Entah apa yang terjadi dengan lo, gue gatau pasti
Lo tidak lagi menceritakannya kepada gue
Dan usaha gue mencari jawaban belum ada hasilnya.
Kebungkaman lo membuat gue tak berkutik.
Gue sering mengira-ngira dan menebak-nebak
Dan satu-satunya alasan yang bisa gue anggap benar adalah,


Mungkin bosan menjelma menjadi nyata dan gue terlambat menyadarinya.





i miss you.


Jumat, 20 Februari 2015

biarkan aku disana

Biarkan aku terus disana,
Yang selalu kau cari saat kau butuh
Yang selalu ingin kau temui saat kau sedang kacau
Yang selalu pertama kau hubungi untuk berbagi banyak hal

Biarkan aku tetap disana
Menjadi yang kau izinkan untuk melihat lukamu
Menjadi yang kau izinkan untuk mengintip kegundahanmu
Menjadi yang kau izinkan, untuk menjadi sebab bahagiamu.

Biarkan aku disana,
Setia menunggumu kembali

Karena yang kubutuhkan hanyalah, kesediaanmu mengakui kehadiranku.
Bukan kamu yang malah diam dan bertopang dagu,
Bukan kamu yang malah menutup mata
.
.

dan berhenti peduli.